Custom Search

Rabu, 13 Mei 2015

Sabun Bunga Biru

Its will be my last letter from Japan. Guess what’s the reason? I will move to your country soon. We can be friend in real life. I will send you an email when i arrives there. See you.

Itulah sepenggal isi suratnya tiga bulan lalu. Dan hingga hari ini aku belum menerima surat lainnya ataupun email. Bahkan aku cek sosial medianya, tak ada satupun yang di-update dalam tiga bulan ini. Kemana dia ya? Apakah masih menyesuaikan diri dengan Indonesia?

“Ngelamun aja.” Arka membuyarkan lamunanku. “Minum dulu nih selagi masih hangat.” Katanya sambil memberikan cangkir.

Cokelat panas? Rasanya pas, tidak terlalu manis ataupun pahit. Sesuai seleraku.

“Belajar dari mana cara buatnya?”

“Rahasia.” Katanya sambil mengedipkan mata.

Satu kejutan kecil lagi dari Arka. Setelah kemarin dia memilihkan menu Soto untukku karena tahu itulah makanan kesukaankau.Dan sebelumnya dia memberikan aku puluhan Gotochi-nya Jepang karena tahu aku mengoleksinya. Dan hal lainnya yang hanya orang terdekat tahu. Setiap ditanya tahu darimana, “Agen rahasia” selalu itu jawabannya.

Padahal aku baru mengenalnya satu bulan. Itupun dimulai dengan tragedi memalukan-diri-sendiri itu.

“Pasti dari agen rahasia lagi.” tebakku.

Dia tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapih dan putih. Ah sudahlah, dia masih belum mau memberitahuku.

“Ar, aku ke toilet dulu ya.”

“Tahu tempatnya kan?”

Aku menjulurkan lidah untuk menjawabnya. Ini kan bukan pertama kalinya aku kesini.

Kamar mandi Arka selalu bersih dan rapih seperti ruangan lainnya. Semua barang tertata rapi dan pada tempatnya. Dan sepertinya Arka mengoleksi macam-macam sabun karena ada belasan sabun dengan berbagai bentuk dan warna tertata rapi di rak khusus di dinding. Eh, sepertinya aku kenal sabun berbentuk bunga warna biru ini deh. Tuh kan, ada ukiran inisial aku di sabunnya. Ini kan sabun yang aku buat khusus untuk sahabat-sahabat penaku. Kenapa bisa ada di Arka?

“Ar, kamu dapat dari mana sabun ini?” tanyaku sambil memperlihatkan sabun itu ke hadapan Arka.

Arka mengambil sabun itu dari tanganku dan tersenyum. Dia menepuk sofa di sebelahnya, memintaku duduk di sana.

“Sepertinya aku akan memberitahukanmu sekarang.” Katanya dan langsung masuk ke kamar meninggalkanku duduk sendirian di sofa. Apa maksudnya? Otakku sudah terlalu lelah untuk berpikir saat ini.

Tak lama kemudian Arka datang dan membawa box berukuran sedang. Diberikannya box itu padaku.

“Buka aja.” Katanya sambil duduk kembali di sebelahku.

Perlahan aku membuka kotak itu. Isinya adalah satu file folder dan benda-benda yang kukenali pernah kuberikan untuk sahabat penaku.

“Apa maksudnya?” aku masih belum mengerti.

“Baca aja.”

Kubuka file folder itu dan what a surprise! Isinya adalah kertas yang penuh tulisan tanganku. Diurutkan berdasarkan tanggal penerimaan suratnya. Jangan-jangan Arka itu adalah Antares? Sang Japanese sahabat penaku yang pindah ke Indonesia. “Finally, we can be friend in real life.” Katanya sambil memberikan senyum terindahnya.

Senyum itu menular padaku, “Welcome to Indonesia then Arkadi Antares.”

Selasa, 12 Mei 2015

Bad Feeling

Kemana?” tanyaku singkat saat Tanu mengatakan tak dapat mengantar pulang.

“Tanding futsal sama anak kelas sebelah. Gak apa-apa kan?”

Lagi dan lagi, aku terkalahkan oleh futsal. Mau bagaimana lagi, itu memang hobinya. Bila melihat binar semangat saat dia membicarakan futsal dan aura menggelora saat di lapangan, mana tega aku menghalanginya untuk berakrab dengan futsal.

Tapi untuk kali ini terasa berat untuk melepasnya. Muncul secercah rasa tak rela. Seperti tahu keraguanku, dia memasang ekpresi andalannya, senyum manis dan wajah memelas.

“Pulang futsal aku ke rumah kamu deh. Kita kerjain PR bareng. Oke?’” rayunya

Ya Tuhan, semoga rasa tak rela ini bukan pertanda negatif.

“Tapi, sebelum dan sesudah tanding kirimin foto selfie kamu dan yang lainnya ya.”

Dia tersenyum jahil dan mengacak rambutku. “Okei non. Kamu hati-hati ya.”

Tanu langsung menghampiri teman-teman futsalnya yang menunggu di luar kelas. Pandanganku mengikuti hingga mereka tak terlihat lagi.

“Sei, bareng aku aja yuk.” Adhis sudah berdiri di sampingku dan tersenyum.

Tanpa pikir panjang aku mengangguk menerima ajakannya.

Sepanjang perjalanan Adhis tak banyak bertanya atau mencoba membuka permbicaraan. Seperti mengerti aku tak ingin berbincang. Namun, rasa ingin tahunya pasti sudah tak tertahan.

“Kamu takut Tanu celaka di lapangan futsal?” tanyanya

“Entahlah. Keseleo udah biasa untuk dia. Rasanya bukan itu yang aku takutkan.”

“Takut Tanu selingkuh?”

“Sama bola? Atau sama temen futsalnya? Gak mungkin dia selingkuh sama mereka.” Aku percaya kesetiaan Tanu.

“Terus, kenapa?”

Aku menghembuskan nafas berat. “Ga ngerti Dhis. Semacam firasat buruk. Tapi gak tahu apaan itu.”

Adhis nampak berpikir. “Udahlah, positive thingking aja.”

“I’ll try.”

Ada WA masuk dari Tanu. Sesuai janji dia mengirimkan foto. Dia dan timnya berdiri berjejeran bak pemain sepakbola profesional. Ditambah kalimat, “Wish we win ya Non :* “

“Dia keliatan in best condition deh di foto itu.” Ternyata Adhis ikut melihat fotonya.

“Semoga.”

Aku kembali diam. Walau terlihat berbinar, tapi ada yang berbeda dengan Tanu dalam foto tadi. Tapi apa? Berapa kali pun aku melihatnya, tak bisa kutemukan.

Suara Mariah Carey dari ponselku memecah keheningan kami.

“Siapa?” tanya Adhis

“Afnan.” Jawabku pada Adhis. “Ya Nan, ada apa?”

“Ehm,,,Sei...Tanu...”

Deg. Keresahan itu makin menjadi. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi.

“Tanu kenapa Nan?”

Tidak terdengar jawaban apa pun dari Afnan yang membuatku semakin resah. Ya Tuhan, semoga dia baik-baik saja.

“Sei, ini Adnan. Kamu lagi sama siapa?”

Kenapa diover ke Adnan teleponnya?

“Aku sama Adhis. Ada apa sih sama Tanu? Ayolah kasih tahu aku.”

Ya Tuhan semoga Tanu tidak cedera atau apapun kemungkinan buruk yang bisa terjadi.

“Tanu terjatuh saat pertandingan baru mulai lima menit.”

“Gimana keadaan dia sekarang? Gak parah kan?”

Adnan diam sesaat dan terdengar hembusan nafas panjang, “Tanu udah gak ada Sei. Kata dokter serangan jantung.”

Gak, gak mungkin Tanu udah gak ada. Adnan pasti bercanda. Tanu baik-baik aja.

Adhis mengambil ponsel yang terjatuh dari tanganku. Aku tak tahu apa yang dibicarakannya dengan Adnan. Aku sudah tenggelam dalam tangis.

Adhis langsung meraihku ke dalam pelukannya. Dan mengusap lembut kepalaku.

Selasa, 31 Desember 2013

Resolusi 2014

Waktu bergulir dengan begitu cepatnya...tak ada jeda,,,tak ada hentinya...

Gak kerasa sekarang udah tgl 31 Desember 2013 aja nih. Daaaan ternyata selama 2013 ini ga ada postingan satu pun di blog ini. (malesnya kumatz. hehe)

Karena ini hari terakhir di 2013, saatnya posting tentang resolusi 2014..ehm,,,apa ya?
Jujur, aku paling bingung kalau disuruh bikin tentang hal ini. Karena banyaaaaaaaaaaaknya hal yg diinginkan. hehe..

Tapi agar lbh semangat dan terarah menjalani hal-hal di 2014 (#ciieee bahasanya)..maka berikut ini adalah resolusi 2014 :

mempunyai 1 rumah untuk tempat tinggal mama & adik-adikku pada Agustus 2014
mempunyai berat badan 50kg
hafal juz 30 & 29
mempunyai 2 usaha dengan omset masing-masing 10 juta perbulan
menjadi perantara pemberi beasiswa bagi 24 anak melalui GBSA
lebaran di bangka
menikah
membeli rak buku baru
menuliskan review dari semua buku yang telah dibaca
menerbitkan 1 buku fiksi / novel
bisa mengendarai motor
bisa mengunjungi Jepang

Ehm,,,,kurasa itu dulu resolusi di 2014 nya. Bantu doa ya agar bisa tercapaai.

Aamiin
^^

Meningkatkan Trafik

"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...? Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...!..Klik disini dan disini "