Custom Search

Selasa, 12 Mei 2015

Bad Feeling

Kemana?” tanyaku singkat saat Tanu mengatakan tak dapat mengantar pulang.

“Tanding futsal sama anak kelas sebelah. Gak apa-apa kan?”

Lagi dan lagi, aku terkalahkan oleh futsal. Mau bagaimana lagi, itu memang hobinya. Bila melihat binar semangat saat dia membicarakan futsal dan aura menggelora saat di lapangan, mana tega aku menghalanginya untuk berakrab dengan futsal.

Tapi untuk kali ini terasa berat untuk melepasnya. Muncul secercah rasa tak rela. Seperti tahu keraguanku, dia memasang ekpresi andalannya, senyum manis dan wajah memelas.

“Pulang futsal aku ke rumah kamu deh. Kita kerjain PR bareng. Oke?’” rayunya

Ya Tuhan, semoga rasa tak rela ini bukan pertanda negatif.

“Tapi, sebelum dan sesudah tanding kirimin foto selfie kamu dan yang lainnya ya.”

Dia tersenyum jahil dan mengacak rambutku. “Okei non. Kamu hati-hati ya.”

Tanu langsung menghampiri teman-teman futsalnya yang menunggu di luar kelas. Pandanganku mengikuti hingga mereka tak terlihat lagi.

“Sei, bareng aku aja yuk.” Adhis sudah berdiri di sampingku dan tersenyum.

Tanpa pikir panjang aku mengangguk menerima ajakannya.

Sepanjang perjalanan Adhis tak banyak bertanya atau mencoba membuka permbicaraan. Seperti mengerti aku tak ingin berbincang. Namun, rasa ingin tahunya pasti sudah tak tertahan.

“Kamu takut Tanu celaka di lapangan futsal?” tanyanya

“Entahlah. Keseleo udah biasa untuk dia. Rasanya bukan itu yang aku takutkan.”

“Takut Tanu selingkuh?”

“Sama bola? Atau sama temen futsalnya? Gak mungkin dia selingkuh sama mereka.” Aku percaya kesetiaan Tanu.

“Terus, kenapa?”

Aku menghembuskan nafas berat. “Ga ngerti Dhis. Semacam firasat buruk. Tapi gak tahu apaan itu.”

Adhis nampak berpikir. “Udahlah, positive thingking aja.”

“I’ll try.”

Ada WA masuk dari Tanu. Sesuai janji dia mengirimkan foto. Dia dan timnya berdiri berjejeran bak pemain sepakbola profesional. Ditambah kalimat, “Wish we win ya Non :* “

“Dia keliatan in best condition deh di foto itu.” Ternyata Adhis ikut melihat fotonya.

“Semoga.”

Aku kembali diam. Walau terlihat berbinar, tapi ada yang berbeda dengan Tanu dalam foto tadi. Tapi apa? Berapa kali pun aku melihatnya, tak bisa kutemukan.

Suara Mariah Carey dari ponselku memecah keheningan kami.

“Siapa?” tanya Adhis

“Afnan.” Jawabku pada Adhis. “Ya Nan, ada apa?”

“Ehm,,,Sei...Tanu...”

Deg. Keresahan itu makin menjadi. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi.

“Tanu kenapa Nan?”

Tidak terdengar jawaban apa pun dari Afnan yang membuatku semakin resah. Ya Tuhan, semoga dia baik-baik saja.

“Sei, ini Adnan. Kamu lagi sama siapa?”

Kenapa diover ke Adnan teleponnya?

“Aku sama Adhis. Ada apa sih sama Tanu? Ayolah kasih tahu aku.”

Ya Tuhan semoga Tanu tidak cedera atau apapun kemungkinan buruk yang bisa terjadi.

“Tanu terjatuh saat pertandingan baru mulai lima menit.”

“Gimana keadaan dia sekarang? Gak parah kan?”

Adnan diam sesaat dan terdengar hembusan nafas panjang, “Tanu udah gak ada Sei. Kata dokter serangan jantung.”

Gak, gak mungkin Tanu udah gak ada. Adnan pasti bercanda. Tanu baik-baik aja.

Adhis mengambil ponsel yang terjatuh dari tanganku. Aku tak tahu apa yang dibicarakannya dengan Adnan. Aku sudah tenggelam dalam tangis.

Adhis langsung meraihku ke dalam pelukannya. Dan mengusap lembut kepalaku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan tinggalkan comment kalian ya sob....but, don't spaming yupz...

Meningkatkan Trafik

"Ingin meningkatkan traffic pengunjung dan popularity web anda secara cepat dan tak terbatas...? Serahkan pada saya..., Saya akan melakukannya untuk anda GRATIS...!..Klik disini dan disini "